nursanti.pertiwi10's blog

mencari dan memberi yang terbaik

Sepiring Nasi Penuh Cinta

Author: nursanti.pertiwi10
09 15th, 2010

Aku teringat pada sebuah cerita yang diceritakan oleh sahabat karibku, Ausellia. Cerita itu menginspirasikan aku tentang sebuah arti cinta kasih seorang Ibu kepada anaknya. Cerita itu bermula pada saat kami dan teman-teman yang lain berkumpul di rumahku. Ketika itu telepon genggam miliknya berdering, ternyata telepon dari Ibunya “Au kamu pulang yah,sudah malam”ucap Ibunya. “iya Ibu bentar lagi ya,setengah jam lagi deh”ucap Au memohon. “Au pulaang sekarang,dengar Ibu dong de”ucap Ibunya. “iya Au pulang sekarang!!”jawab Au kesal dan membanting telepon genggamnya. Au pun pamit dengan aku dan lainnya dengan muka yang marah.

Sesampainya di rumah Au pun  bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah,Au segera pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah Rumah Makan, dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan sepiring nasi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik Rumah Makan melihat Bunga berdiri cukup lama di depan etalasenya, lalu bertanya, “Mba, apakah kau ingin sepiring nasi?”tanya pemilik Rumah Makan tersebut.“Tetapi, aku tidak membawa uang,” jawab Au dengan malu-malu.“Tidak apa-apa, aku akan memberimu sepiring nasi,” jawab pemilik Rumah Makan. “Silahkan duduk, aku akan menghidangkannya untukmu.”

Tidak lama kemudian, pemilik Rumah Makan itu mengantarkan sepiring nasi dengan lauk pauknya. Au segera makan dengan nikmatnya dan kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa Mba?” tanya pemilik Rumah Makan.“Tidak apa-apa. Aku hanya terharu,” jawabnya sambil mengeringkan air matanya.“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberiku sepiring nasi! Tapi…. Ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Bapak seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri,” katanya kepada si pemilik Rumah Makan.

Pemilik Rumah Makan itu setelah mendengar perkataan itu, menarik napas panjang, dan berkata, “Mba, mengapa kau berpikir seperti itu?. Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu sepiring nasi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak makanan untukmu saat kau masih kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya.”

Au terkejut  mendengarkan perkataan pemilik Rumah Makan, tanpa terasa ada buliran air yang jatuh ke pipinya dari sudut mata indahnya. Hatinya berkata “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk sepiring nasi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang telah memasak makanan untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihakan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.”Au  menghabiskan nasinya dengan cepat, dan berpamitan serta berterimakasih kepada pemilik Rumah Makan tersebut karena telah menyadarkannya. Lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

Sambil berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkannya kepada ibunya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengatakan, “Ibu,maafin aku, aku tahu bahwa aku bersalah.”
Begitu sampai di depan pintu, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas, karena telah mencarinya ke semua tempat. Ketika ibunya melihat anak perempuannya, kalimat pertama yang keluar dari mulut ibunya, “Ade, cepat masuk, ibu telah menyiapkan makan malam untukmu dan makanan itu akan menjadi dingin jika kau tidak segera memakannya.”Bunga  sangat terharu melihat kasih ibunya yang begitu besar kepadanya, ia tidak dapat menahan air matanya dan ia menangis di hadapan ibunya dan ia pun berkata “Ibu maafin aku, aku tahu aku bersalah. Maafin aku, aku tidak menurut kepadamu”isak Au. “iya Ibu maafin kok sayang”ucap Ibunya dengan lembut dan memeluk Au dengan kasih sayang. “terimakasih ibu mau maafin Au, terimakasih ibu sudah menjaga dan merawat Au sampai sekarang, Ibu adalah Ibu terhebat di dunia. Au sayang Ibu” isaknya semakin kencang kemudian dikecuplah kedua pipi dan keningnya oleh Ibunya. Aku hanya dapat tersenyum melihat kebahagian mereka. Udara di luar sangat dingin, namun tak ku rasakan karena kehangatan cinta kasih seorang Ibu kepada anaknya.